Menentukan target jumlah pasien harian merupakan salah satu kunci dalam pengelolaan rumah sakit yang efektif. Target yang terlalu tinggi akan membebani SDM dan menurunkan mutu layanan, sedangkan target yang terlalu rendah berisiko menyebabkan inefisiensi operasional dan kehilangan potensi pendapatan.

Oleh karena itu, penyusunan target harus realistis, berbasis data, dan mempertimbangkan kapasitas layanan.

1. Mulai dari Data Historis (Baseline Nyata)

Langkah pertama adalah melihat data riil minimal 6–12 bulan terakhir, meliputi:

Jumlah kunjungan rawat jalan per hari

BOR (Bed Occupancy Rate)

ALOS (Average Length of Stay)

Jumlah tindakan (OK, radiologi, lab)

Contoh:

Rata-rata rawat jalan: 120 pasien/hari

Rawat inap: BOR 65% dari 100 tempat tidur

👉 Ini menjadi baseline, bukan target akhir.

 

2. Segmentasi Layanan (Jangan Digabung)

Target harus dipisahkan agar lebih realistis:

a. Rawat Jalan

Poli umum

Poli spesialis

Poli gigi (jika ada)

b. Rawat Inap

Kelas (VIP, 1, 2, 3)

ICU/NICU/PICU

c. Penunjang Medis

Laboratorium

Radiologi

Farmasi

Kenapa penting?
Karena masing-masing punya karakter demand dan kapasitas berbeda.

3. Hitung Kapasitas Maksimal (Supply Side)

Target tidak boleh melebihi kapasitas nyata.

Contoh Rawat Jalan:

1 dokter = 20–25 pasien/hari (ideal mutu)

5 dokter poli aktif
👉 Kapasitas maksimal = 100–125 pasien/hari

Contoh Rawat Inap:

Tempat tidur = 100

BOR ideal = 70–80%
👉 Target pasien rawat inap aktif = 70–80 pasien/hari

 

4. Gunakan Pendekatan Bertahap (Growth Realistis)

Jangan langsung lompat jauh dari baseline.

Rumus sederhana:

Target = Baseline + Growth (%)

Contoh:

Baseline: 120 pasien/hari

Growth realistis: 5–10%

👉 Target = 126 – 132 pasien/hari

Catatan:

RS baru: growth bisa 10–20%

RS existing: ideal 5–10%

 

5. Perhitungkan Faktor Demand (Pasar)

Target harus sesuai potensi pasar:

Jumlah penduduk catchment area

Kepesertaan BPJS

Kompetitor sekitar

Pola rujukan

Contoh: Jika RS berada di area padat + dekat fasilitas primer → target bisa lebih agresif.

 

6. Sesuaikan dengan Hari dan Pola Kunjungan

Target harian tidak boleh flat.

Pola umum:

Senin–Selasa: tinggi

Rabu–Kamis: stabil

Jumat: turun

Sabtu: setengah

Minggu: IGD dominan

👉 Buat target harian berbasis pola:

Hari Target (%)

Senin 110%
Selasa 105%
Rabu 100%
Kamis 95%
Jumat 85%
Sabtu 70%
Minggu 60%

 

7. Integrasikan dengan Target Keuangan

Target pasien harus inline dengan:

Target pendapatan (revenue)

Case mix (BPJS vs umum)

Tarif layanan

Contoh:

120 pasien BPJS ≠ 120 pasien umum
👉 Nilai finansialnya berbeda

 

8. Gunakan 3 Level Target (Best Practice)

Agar fleksibel dan realistis:

1. Minimum (Bottom Line) → agar tidak rugi

2. Target (Realistis) → target utama

3. Stretch (Optimis) → jika kondisi bagus

 

Contoh Rawat Jalan:

Minimum: 110 pasien

Target: 130 pasien

Stretch: 150 pasien

 

9. Breakdown sampai Level Unit dan Dokter

Jangan berhenti di angka total.

Contoh:

Poli penyakit dalam: 30 pasien

Poli anak: 25 pasien

Poli bedah: 20 pasien

👉 Ini membuat target bisa dieksekusi, bukan hanya angka di atas kertas.

 

10. Monitoring Harian dan Weekly Adjustment

Target harus hidup, bukan statis.

Monitoring harian (dashboard)

Evaluasi mingguan

Penyesuaian bulanan

Indikator penting:

Gap target vs realisasi

No-show rate

Waiting time

 

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

❌ Menentukan target tanpa data historis
❌ Menyamakan semua hari
❌ Tidak memperhitungkan kapasitas dokter
❌ Target hanya berbasis keuangan
❌ Tidak diturunkan ke unit operasional

 

Kesimpulan

Target harian pasien rumah sakit yang realistis adalah target yang:

✔ Berbasis data historis
✔ Sesuai kapasitas layanan
✔ Memperhitungkan potensi pasar
✔ Fleksibel terhadap pola kunjungan
✔ Terintegrasi dengan target keuangan

Dengan pendekatan ini, rumah sakit tidak hanya mengejar volume pasien, tetapi juga menjaga mutu layanan, efisiensi operasional, dan keberlanjutan bisnis.

Post a comment

Your email address will not be published.